Menelusuri Keelokan Curug Cikondang dan Keindahan Alam Cianjur Selatan

Explore kami menyusur Cianjur pada hari kedua di kota manisan buah dan tauco ini berlanjut ke arah selatan. Keraguan awal sebelum explore, apa yang bisa kami temukan di Cianjur, menunggu pembuktian. Kami memang sempat survei melalui Mbah Google, potensi wisata apa aja yang bisa ditemukan. Ternyata, Cianjur menyimpan banyak curug indah yang jarang kita ketahui.

Oh ya, buat teman-teman yang mau tahu di mana kami menginap selama di Cianjur, bisa intip ceritanya pada artikel di bawah ini:

Shine BnB, Menikmati Hotel Tematik di Cianjur dan Sajian Kuliner Kopi Khas Ujala Cafe

Lokasi Curug Cikondang

Dari beberapa alternatif curug yang ada di selatan kota Cianjur, pilihan jatuh kami pada Curug Cikondang. Jaraknya sekitar 35 km dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam menjadikannya yang terdekat. Setelah menyisir jalan raya protokol Perintis Kemerdekaan, di pertigaan simpang Cibeber, Google Map mengarahkan kami berbelok ke kiri menuju Cibeber.

Jalan Raya Cibeber ini tidaklah terlalu lebar, tapi sudah beraspal baik. Nah, sesampai di kota kecil Cibeber, jalannya mulai berkelok-kelok tajam dan tidak terlalu mulus di beberapa bagian, banyak jebakan lubang! James menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang karena medannya memang terus menaik meski tidak curam dan mengular. Ditemani Keith yang sama sekali tidak ketiduran sangking semangat ingin lihat curug. Sementara Lenny dan Karen tertidur pulas meski dipontang-panting kanan-kiri.

“Keith, nggak ngantuk?” papi James bertanya. “Nggak Pih… Kikit seneng liat jalannya.” jawab Keith dengan semangatnya. Perjalanan kami teruskan sambil sesekali mengobrol.

Kira-kira pada kilometer 28 dari Cianjur, Google Maps mengarahkan kami untuk berbelok kanan masuk ke jalan kecil pedesaan. Di sisi jalan, plang petunjuk jalan bertuliskan “Situs Gunung Megalitikum” terpampang. Tidak ada keterangan Curug Cikondang. Ini buat James sempat ragu.

“Pak punten, bade naroskeun (mau bertanya),” demikian James bertanya sejenak ke penduduk sekitar yang ada di sisi jalan. “Upami ieu leres (kalo ini bener) jalan ka Curug Cikondang?” tanya James. “Leres, Pak.” jawab Sang Bapak.

Yakin dengan arah jalan, kami melanjutkan jalan berbeton mulus ini. Masih ada 7 km harus kami jalani, tapi karena pemandangan di sekitar jalan kecil ini indah, campuran pedesaan dan pesawahan, bikin kami enjoy menjalaninya. Apalagi jalanan sepi dan rata tanpa lubang sama sekali, hawa segar pedesaan begitu terasa sehingga waktu 20 menit menyusur 7 km nggak kerasa.

Jadi, jalan menuju Curug Cikondang ini satu arah dengan jalan menuju Situs Gunung Padang (salah satu tujuan wisata di Cianjur Selatan). Untuk mencapai Situs Gunung Padang jaraknya masih 10 km lagi dari Curug Cikondang dan karena pada waktu itu sudah kesorean, kami mengurungkan niat melanjutkan ke Situs. Gapapa, explore Curug Cikondang juga sudah memuaskan hati dan mata kami.

Parkir dan Tiket Masuk

Satu kilometer mendekati Curug Cikondang, suasana jalan berubah menjadi perkebunan teh. View-nya sangat bagus, beberapa tempat cocok buat foto-foto. Kami hanya melewatkannya saja karena waktu. Tapi hawa sejuknya dan landskap perbukitan kebun tehnya tetap berkesan di sanubari.

Google Maps mengatakan kami sudah sampai di Curug Cikondang. Ada plang petunjuk Curug Cikondang ditancapkan di sisi kanan jalan. Seorang pemuda menyambut kami dengan sigap dan berseru, “Pak, mau ke curug?” lalu dia mengarahkan kendaraan kami parkir di lahan tanah lebar di sebelah kiri jalan.

Lahannya luas bisa menampung puluhan mobil. Kami terlambat menyadari pemberhentian pertama ini ternyata bukan yang terdekat dengan pintu masuk Curug Cikondang. Kami seperti dipancing oleh mas-mas tadi, padahal parkiran terdekat hanya maju sekitar 20 m lagi. Ya, gapapa lah… namanya juga bantu penghasilan penduduk sekitar.

Kami sempat lunch dulu di mobil dari bekal yang kami beli di rumah makan Alam Sunda (salah satu rumah makan terkenal yang berpusat di kota Cianjur). Lenny juga baru tersadar dari tidurnya, jadi sekitar 30 menitan kami berdiam mobil. Sebelumnya pemuda yang tadi mengarahkan parkir memberi tiket parkir yang tertera di tiket itu sebesar 10K dan dibayar pada saat nanti pulang.

Parkiran kedua yang lebih dekat ke gerbang masuk Curug Cikondang

Tiket Masuk ke Area Curug Cikondang

Dari parkiran pertama ini kami masih harus berjalan kaki sekitar 200-300 m. Jalannya berbatu dan menurun lumayan curam. Di ujung turunan sudah terlihat loket kecil berwarna hijau. Di sampingnya ada banner besar selamat datang di Curug Cikondang dengan berbagai fasilitasnya.

“Pak, tiket masuk Curug Cikondang berapa?” James bertanya kepada petugas. “Lima ribu pak seorang.” Dan segera James mengeluarkan uang kertas hijau untuk 4 buah tiket. Kami sempat bertanya kalo anak-anak mulai dihitung usia berapa, tapi kok lupa jawaban petugas apa? 😁😁😁 Tidak terlalu penting lah yah, tiket 5K juga terhitung murah dibandingkan dengan keindahan yang ditawarkan.

Di samping loket tiket Curug Cikondang ada jembatan kayu yang ternyata menuju area parkir terdekat. Lucu juga nih buat difoto-foto. Cuma Keith yang sempat mencobanya karena beda tempat parkiran otomatis kami tidak lewat jembatan ini.

Jalan Menuju Curug dan Sendal Putus

Jalan menuju curug diawali jalur melingkar meniti sisi bukit, jalanannya ada jalur berbatu dan tanah. Dari ketinggian jalanan ini, kita bisa melihat view lembah di bawah dan juga ujung atas dari Curug Cikondang. Terkagum akan lanskap lembah dan pesawahan ini bikin kami makin semangat menuju curug.

Ini jalur turunan menuju lembah Curug CIkondang. Jadi dari posisi foto ini,
kami harus maju dulu ke depan, lalu belok ke kiri turun ke dasar lembah

“Papi, sandal mami putus!” seru Karen di belakang. Ya di tengah jalan sandal jalan-jalan Lenny putus. Mundur sebentar, James mengajak Lenny berjalan perlahan sambil berkata, “Di depan ada warung, keliatannya ada yang jual sendal di sana.”

Nggak terlalu jauh di pertigaan jalan yang akan turun menuju curug, James bertanya ke penjaja warung, “Pak, bade meser sandal, aya?” Sang Bapak penjaja menjawab, “Oh aya, Gan… eta digantung.” Ada dua pilihan sendal dijual, satu merk legendaris Sw**** (entah asli atau nggak? 😁😁😁) satu lagi merek tidak ternama. Karena warnanya lebih menarik, Lenny memilih yang biasa saja, cuma 8 rebu perak…

Lenny melanjutkan perjalanan dengan sendal barunya, tidak menjadi masalah menuruni jalanan yang turun cukup terjal. Jalanan berbatu sangat menolong untuk menahan langkah kami. Di sepanjang turunan ini berjajar warung-warung makan, sebagian besar tutup mungkin karena pandemi menurunkan jumlah pengunjung.

Setengah jalan, suara gemericik Curug Cikondang mulai terdengar. Dari kejauhan kami sudah bisa melihat penampakan curug hampir lengkap. Jalannya setelah itu lebih tertata, turunan dibuat undakan tangga yang juga diberi pembatas di sisinya untuk berpegangan.

Menikmati Keindahan Curug Cikondang

Nggak butuh waktu lama untuk turun. Anak-anak juga nggak kesulitan untuk meniti jalanan. Kira-kira 10 menit jalan kami tiba di dasar lembah tempat Curug Cikondang berada. Dari kejauhan gemuruh air terjun sudah begitu membahana, membuat hati makin penasaran merasakan butir-butir embun cipratan air terjun yang turun.

Curug Cikondang ini tinggi juga. Menurut info yang kami dapat tingginya sekitar 50m. Beruntung kami datang di musim kemarau, sehingga airnya jernih dan curahnya tidak terlalu deras. Di dasar air terjun juga ada beberapa kolam yang bisa dipakai anak-anak berendam. Cukup aman untuk dipakai mereka bermain air, asal tetap diawasi. Keith langsung saja kepingin nyebur ke kolam-kolam tersebut. Eitss tapi ati2, batunya kalo di bagian yang tergenang licin juga lhoo.. Keith sempat terpeleset sekali.. Hati-hati yah, Nak!

Ada batu karang besar berdiri di depan jatuhnya air curug. Di atas batu ini dibangun anjungan untuk berselfie ria lengkap dengan papan bertuliskan Curug Cikondang. Sebetulnya di pintu masuk anjungan menuju tangga ke atas, dipasang plang bahwa pengunjung harus membayar 5K per orang untuk naik ke anjungan. Tapi mungkin karena sedang sepi, tidak ada petugas yang menjaga. James dan Karen dengan bebas masuk untuk berfoto ria.

Foto-foto di daerah Curug Cikondang ini perlu hati-hati. Karena curugnya tinggi, tentu air cipratannya cukup banyak. Jika berada di dasar air terjun, tepat di tengah curug, hembusan air yang terbawa anginnya kencang. Sebentar saja lensa kamera/handphone akan basah. James pun beberapa harus meng-lap lensanya. Sebaiknya jangan terlalu lama untuk mengeluarkan alat-alat elektronik.

Fasilitas Umum

Di sekitar lembah dasar Curug Cikondang juga terbanyak banyak saung dari kayu/bambu didirikan. Pengunjung bisa menggunakannya untuk tempat beristirahat sambil menikmati pemandangan atau menikmati bekal makanan yang dibawa.

Sedikit di atas lembah, juga tersedia toilet umum berbayar. Waktu itu sih tertulis 2K per orang dan kondisinya tidak ada petugas toilet berjaga. Toiletnya cukup bersih dan kami gunakan untuk berganti baju Keith yang basah kuyup. Oh ya selain toilet, di sini juga disediakan mushola dan juga tempat ambil air wudhu.

Catatan Penutup

Curug Cikondang merupakan pilihan tepat untuk berwisata bersama keluarga apalagi jika membawa anak-anak. Selain medan jalan kakinya bisa ditempuh oleh anak-anak, situasi curugnya juga cukup bersahabat (terutama musim kemarau yahh… kalo musim hujan mungkin perlu berhati-hati). Ada pembatas area yang tidak boleh pengunjung renangi, yaitu tepat di dasar air terjunnya turun karena mengingat arus air yang cukup kuat.

Sungguh perjalanan kami kali ini menyusur Cianjur Selatan menjadi pengalaman jalan-jalan yang tak terlupakan dan memberi kenangan indah tersendiri. Apalagi buat anak-anak yang sudah lama tidak pernah main ke curug. Curug Cikondang sangat berkesan di hati mereka. Yuk ahhh.. kapan-kapan berburu curug yang lain…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.