Pengalaman Naik LRT Jakarta, Moda Terbaru Transportasi Kereta Listrik

Bulan Mei 2019 kemarin merupakan tonggak sejarah baru untuk kota Jakarta karena diluncurkannya moda transpostasi terbaru, yaitu LRT.  Light Rail Transit demikian kepanjangannya, atau jika dalam bahasa Indonesia memakai kepanjangan Lintas Rel Terpadu adalah salah satu dari moda transportasi berbasis kereta listrik yang sekarang dimanfaatkan juga untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di jalan raya Jakarta.

03sw

Mengenal LRT

Pertengahan Juli lalu kami kebetulan berkunjung ke Jakarta. Sembari nge-mall.. hehehe… (rasanya kalo ke Jakarta kok nggak bisa lepas dari jalan-jalan di salah satu mal) yaitu di Mal Kelapa Gading, kami menyempatkan untuk mencoba LRT yang kebetulan stasiunnya berada di depan MKG1.

IMG_20190712_151802.jpg
Stasiun Velodrom Rawamangun

Jika kami perhatikan, membandingkan MRT dan KRL yang sudah lebih dulu muncul dengan LRT tidaklah terlalu berbeda jauh. Ketiganya menggunakan tenaga listrik untuk beroperasi. Kesamaan lainnya, yaitu punya jalur khusus yang tidak bersinggungan dengan jalan raya seperti MRT. Jalur LRT adalah jalur layang yang berada di atas tanah.

07sw

Moda transportasi seperti ini keunggulannya lebih singkat waktu tempuhnya dan pembangunan jalurnya pun lebih cepat rampung dibanding MRT yang sebagian jalurnya berupa terowongan bawah tanah. Keunggulan lainnya mungkin dari segi keamanannya karena tidak bersingungan dengan kendaraan lainnya.

Jalur dan Stasiun LRT

Sementara ini, jumlah stasiun yang beroperasi baru lima stasiun. Penumpang hanya bisa menaikki LRT dari Boulevard Utara sampai Velodrome. Dan waktu itu sih kami masih dalam tahap uji coba, jadi tiketnya masih belum berbayar. Oh ya, karena tiket masih belum ditarif maka mesin tiket otomatis-nya (ticket vending machine) saat itu belum berfungsi.

05sw

Panjang total jalur LRT tahap 1 baru 5,8 km. Saat ini sedang berlanjut pembangunan untuk jalur di tahap ke-2, di mana stasiun Velodrome Rawamangun akan dilanjutkan hingga mencapai stasiun transit utama Dukuh Atas di Jakarta Pusat. Di antara stasiun-stasiun yang ada, juga akan terintegrasi dengan moda angkutan lain seperti Trans Jakarta, MRT, KA Bandara, dan juga KRL.

09sw

Tiket Masuk

Jadi awalnya kami sudah siap-siap bawa kartu e-money, sampe dibela-belain top up dulu.. Ehh… pas sampe gerbang masuk peron, ternyata cuma dimintai KTP lalu ditanya jumlah orangnya berapa. Ternyata masa uji cobanya diperpanjang (bahkan sampe artikel ini di-publish, kami cek ke medsos LRT, mereka masih belum menarik uang tiket. Hanya sekarang cara masuknya berbeda aturan. Sila cek Instagram @lrtjkt untuk update infonya, IG-nya aktif juga kok).

13sw

Yang berkesan buat kami, semua petugas LRT menyambut dengan ramah, serasa masuk bank bukannya masuk stasion LRT. Dari gerbang bawah, petugas keamanan sudah menyambut ramah dengan sikap welcome. Naik escalator ke atas disapa lagi oleh petugas yang lain, lalu diarahkan ke loket di mana mbak penjaganya juga menyapa hangat. Tiketnya diberikan hand to hand oleh si mbak, sampe keluar loket dulu. Apa mungkin waktu itu masih sepi? Kami jadi kikuk sendiri, hihihi.. Makasih yah mas/mbak untuk service-nya🙏🏼👍🏼

04sw

Peron LRT

Jadi peron LRT selalu punya dua anjungan, masing-masing anjungan untuk arah yang berbeda. Penghubung antar peron ini disambungkan oleh jembatan yang ada di atas jalur LRT. Lumayan sih naik turunnya kalo perlu nyebrang. Nah, peron-nya itu dibatasi dengan pagar setinggi hampir semeter setengah lah kira-kira. Bertutup kaca supaya kereta LRT-nya kelihatan donk… Dan di beberapa tempat ada pintu otomatis yang terbuka saat kereta LRT sampai.

11sw

12sw
Salah satu fasilitas tombol informasi dan darurat yang disediakan

01sw

Kondisi dalam LRT

OK, setelah mendapat tiket dan sedikit mempelajari sudut-sudut stasiun dari LRT, kami pun segera naik kereta begitu datang. Di gerbong yang didatangkan dari Korea ini, suasananya sangat mirip sekali dengan MRT. Bersih, nyaman, dan AC-nya dingin tentunya. Saat itu kereta yang kami tumpangi hanya terdiri dari tiga gerbong.

Baca juga mengenai MRT dan segala informasinya di sini.

02sw

Jalannya LRT tidaklah secepat MRT, menurut info kecepatannya saat beroperasional sekitar 50km/jam. Sebetulnya kecepatannya bisa mencapai 90km/jam tapi mungkin demi keamanan dibatasi hanya segitu. Jadi untuk menempuh 5 stasiun yang beroperasional sekarang hanya perlu waktu sekitar 15 menit dari Boulevard Utama menuju Velodrome. Mmmhh.. cepet juga yah dibanding naik mobil.

10sw

Posisi duduk kursi juga sangat mirip dengan MRT. Di gerbong tertentu juga disediakan kursi prioritas untuk penumpang berumur, ibu hamil, atau yang membawa bayi. Juga ada space khusus untuk para penyandang disabilitas.

15sw
Space kursi prioritas

Perbedaan MRT-KRL-LRT

Perbedaan utama dari MRT, KRL, dengan LRT bisa dilihat dari beberapa aspek, seperti jumlah gerbong, daya tampung, dan juga jalur yang digunakan. Untuk mempermudah, kami tampilkan infografis berikut yah, yang kami ambil dari website MRT Jakarta:

MRT KRL LRT

Akhir kata, artikel ini sementara belum mewakili kondisi sebenarnya dari operasional LRT, tapi minimal bisa memberikan gambaran sepintas mengenai stasiun dan gerbong LRT-nya sendiri. Nanti kalo kami dikasih kesempatan naik LRT dengan kondisi sebenarnya, tentu akan kami update infonya. Semoga bermanfaaat.

 

3 comments

  1. Kereta dan stasiunnya keren! Mengingat LRT di KL dan sebagian BTS di Bangkok stasiun layangnya nggak ada platform screen doors. Sayangnya jalurnya baru sependek itu, lebih kayak angkutan pengumpan aja. Semoga pembangunan tahap 2 segera selesai dan beroperasi.

    Hm, kenapa peronnya dirancang dengan desain side platform ya, kenapa nggak island platform aja yang 1 peron besar di tengah lalu diapit 2 jalur kereta. Jadi gampang kalau mau berpindah peron.

    Like

    • ohh masak di KL ga ada screen doorsnya? bentar2 screen door itu yg pintu pembatas saat akan masuk ke LRT nya khan, mas?

      Kalo di tengah, mungkin jembatan layangnya akan jadi terlalu lebar. Melihat pada LRT KL, peronnya juga sama dibuat side platform seingat saya

      Like

      • Kalo yang stasiun layang nggak ada, mas. Stasiun LRT di KL Sentral, Pasar Seni, misalnya, nggak ada pintu peron.

        Ya, sebagian stasiun LRT memang side platform, seperti di KL Sentral. Tapi kalo kayak Pasar Seni itu island platform. Dari segi luas menurutku sama aja mas. Mungkin karena memudahkan konstruksi, biar jalurnya lurus menyatu terus tanpa ada bagian yang split.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.